Info Pacitan | Wisata | Seni & Budaya | Sejarah | Lokasi menarik | Traveling | Download | Dan lain-lain
Sabtu, 01 Oktober 2016
"DAFTAR WISATA PANTAI TERLENGKAP YANG ADA DI SELURUH PERAIRAN KABUPATEN PACITAN JAWA TIMUR INDONESIA"
Jumat, 28 Agustus 2015
JENIS-JENIS OBYEK WISATA
WISATA ALAM :
Bahari, Pantai, Sungai, Danau, Air Terjun, Hutan, Gunung, Gua, Pulau, Taman Nasional, Wisata Alam Lainnya.
WISATA SEJARAH :
Prasasti, Candi, Istana, Benteng, Makam, Masjid, Gereja, Vihara, Klenteng, Pura, Museum, Monumen, Wisata Sejarah Lainnya.
WISATA BUDAYA :
Upacara Adat / Ritual, Seni Pertunjukan, Wisata Budaya Lainnya.
WISATA RELIGIUS :
Wisata Religius.
WISATA KULINER :
Masakan Khas, Masakan Lainnya.
WISATA MINAT KHUSUS :
Kerajinan, Arsitektur Khas, Agro, Desa, Kota, Pendidikan, Kebun Binatang, Spa, M I C E, Minat Khusus Lainnya.
WISATA OLAHRAGA :
Olahraga Tradisional, Olahraga Modern.
WISATA BELANJA :
Pasar Tradisional, Pasar Modern.
WISATA UMUM :
Wisata Umum Daerah, Taman Mini Indonesia Indah, Taman Impian Jaya Ancol.
Minggu, 24 Mei 2015
"GOA LUWENG JARAN PACITAN" Goa menawan ini sangat cocok untuk wisata minat khusus dan penelitian. [Desa Jlubang - Kecamatan Pringkuku]
GOA (LUWENG) JARAN Jlubang - Pringkuku Pacitan
Terletak di Desa Jlubang Kecamatan Pringkuku Kabupaten Pacitan Jawa Timur , kurang lebih 15 Km dari kota Pacitan. Sangat cocok untuk wisatawan adventurir. Diperlukan peralatan, keahlian dan stamina yang khusus untuk memasuki goa ini. Mungkin nama goa yang satu ini masih asing di telinga kebanyakan orang, tidak sebagaimana tatkala mendengar nama Goa Gong atau Goa Tabuhan. Meski demikian keindahan goa yang satu ini tidak kalah jauh dibanding dengan kedua goa tersebut. Bahkan konon goa ini merupakan goa terpanjang di Indonesia.
Goa Luweng Jaran terdaftar pada tahun 2002, ditemukan pertama kali oleh penduduk setempat pada tahun 1984. Sampai saat ini, goa Luweng Jaran belum terbuka untuk umum, bahkan yang pertama kali memerawani goa ini justru para bule yang merupakan tim ekspedisi gabungan Anglo-Australia pada tahun 1987. Pada tahun ini hasil pemetaan goa tersebut mencapai panjang 11 km, kemudian ketika dilakukan ekspedisi kembali pada tahun 1992, goa ini terhubung dengan luweng Punung Plente (salah satu daerah di kota Pacitan), sehingga panjang goa mencapai 19 km. Data terakhir pada tahun 2002 panjang goa ini mencapai 25 km.
Berbeda dengan Goa Gong maupun Goa Tabuhan yang strukturnya didominasi oleh bebatuan dengan berbagai macam bentuk keindahannya, goa Luweng jaran merupakan goa aliran sungai (sungai bawah tanah). Pintu masuk goa ini juga berupa sungai. Bahkan goa ini merupakan Swallow Hole atau tempat menghilangnya sungai permukaan ke dalam goa. Goa ini dikenal juga dengan nama goa Labirin karena lorongnya bercabang-cabang dan bertingkat.
Meski belum terbuka untuk umum sebagai tempat wisata, namun goa ini merupakan “surga” petualangan bagi para aktifis pecinta alam. Karena goa yang satu ini menyajikan beragam keindahan, tantangan sekaligus keajaiban. Dinding goa merupakan ornamen hamparan batu selayaknya relief ghaib istarat alam. Stalagtit dan stalagmit menjuntai dengan aneka bentuk, ada yang mirip manusia, binatang, menara bahkan miniatur Grand Canyon membentuk taman batu yang basah dan indah sekaligus mempesona.
Satu lagi pesona keajaiban alam yang terdapat pada goa ini yaitu adanya tunas pohon kelapa yang menyeruak diantara pekatnya dinding dan atap goa yang basah, meski kekuningan namun pohon ini tetap hidup, ada juga yang menganggap ini hanya ornamen menyerupai pohon. Selain itu dilantai goa terbentuk telaga kecil yang berasal dari kumpulan tetesan air yang bening dan menampakkan dasar goa. Suara tetesan air ini terdengar ritmis dan teratur bersaing dengan suara angin khas daerah pegunungan selayaknya suara magis, indah yang mengharukan.
Pesona ini diperkuat dengan pemandangan di lantai dan dinding goa, tebaran batuan mutiara yang menyinar tajam, memancarkan kilauannya. Namun para pengunjung dilarang keras memungut batuan ini karena salah bergerak sedikit saja, dinding kapur goa bisa retak dan runtuh.
Banyak hal unik yang tidak ditemukan di goa lain terdapat di Luweng Jaran. Lorong goa penuh lumpur dan juga terdapat static pool, selain itu material pasir besi dari laut dalam sebuah cekungan di dasar goa juga menambah pesona goa ini.
Salah satu lorong di sisi barat chamber tersusun dari runtuhan bongkahan batu ukuran raksasa. Bagi pengunjung yang bermaksud menelusuri goa ini penelusuran dimulai dengan berjalan merunduk di antara celah-celah kecil bongkah batu. Di antara celah kecil itu, ada satu lorong kecil yang harus ditelusuri dengan cara merayap. Lorong inilah yang menyimpan keindahan ornamen yang semuanya telah mengkristal.
Kristal dari ornamen yang menyerupai selimut salju ini menyimpan berbagai misteri alam karena banyak bentukan- bentukan spesifik yang tak dapat dijumpai di goa lain. Salah satu ornamen unik di lorong ini adalah cave pearl, ornamennya berbentuk seperti kilauan mutiara dengan ukuran sebesar kelereng hingga kepalan tangan. Ornamen ini sering menjadi impian setiap caver karena tidak selalu ditemukan dalam penelusuran goa.
Panjang dan luasnya lorong Luweng Jaran, ditambah banyaknya ornamen goa spesifik, menjadikan goa ini sebagai dambaan kelompok penelusuran goa atau pencinta alam. Pengaturan manajemen yang baik dalam kegiatan penelusuran, bukan tidak mungkin akan memberi pengalaman berharga.
Sebagai contoh, penempatan basecamp di dasar luweng memberi arti bagaimana kita dapat menjalani metabolisme kehidupan dalam ruangan gelap gulita yang tidak mengenal perbedaan siang dan malam, jauh dari keramaian dan kebisingan. Hal-hal ini sudah merupakan kisah menarik dalam perjalanan hidup seorang penelusur goa.
Goa ini terletak di dusun Kasri, desa Jlubang, kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan. Lokasinya berada di perbukitan desa Jlubang, sekitar 20 km dari kota Pacitan ke arah Barat.
Sampai saat ini goa ini baru disambangi oleh para pecinta petualang, belum dibuka untuk wisatawan. Diperlukan keberanian dan perasaan tertantang untuk menyambangi dan menyusuri goa ini.
Luweng Jaran pada awalnya ditemukan pertama kali oleh penduduk setempat, dan akhirnya di eksplorasi pertama kali oleh tim Ekspedisi Gabungan Anglo – Australian, yg didampingi oleh Penelusur Gua dari Indonesia pada tahun 1984. Pada saat itu hasil pemetaan mencapai 11 km, kemudian ekspedisi dilanjutkan setiap 2 tahun sekali.
Pada tahun 1992 kembali ekspedisi dapat menggabungkan Luweng Jaran dengan Luweng Punung Plente, sehingga panjang total mencapai 19 km. Luweng ini sangat berbahaya pada musim hujan, karena merupakan Swallow Hole atau tempat menghilangnya sungai permukaan ke dalam goa. Cukup banyak penelusur goa yg terjebak banjir di goa ini.
Untuk menelusuri goa ini diperlukan peralatan vertikal, dengan rincian sumuran pertama mempunyai kedalaman 12 meter, sampai ke teras pertama mempunyai jarak sekitar 25 meter sebelum mencapai sumuran kedua dengan kedalaman 25 meter. Lalu kemudian setelah sumuran kedua, terdapat lorong yang sangat besar, mulai disini medan dapat ditempuh tanpa peralatan vertikal. Luweng Jaran dapat disebut sebagai goa labirin, karena lorongnya bercabang-cabang dan bertingkat.
Senin, 11 Mei 2015
"PONDOK PESANTREN TREMAS PACITAN" Di ketahui sebagai Pondok pesantren tertua ke-2 di Pulau Jawa menurut sejarah. [Desa Tremas - Kecamatan Arjosari]
Pondok Pesantren Termas Arjosari
Rasanya sudah tidak asing lagi mendengar ‘Pondok Tremas’, pesantren besar yang berada di desa Tremas, kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Lokasinya yang berada di tepi pantai selatan dan dikelilingi bukit-bukit pegunungan ini sangat tepat dijadikan tempat mengaji bagi para santri.
Awal Berdirinya Pondok Tremas Jika dirunut ke atas, pendiri pondok pesantren Tremas, KH. Abdul Manan adalah putra seorang Demang Semanten yang bernama R. Ngabehi Dipomenggolo di masa Bupati Jagakarya I yang berkuasa pada tahun 1826. Pada masa itu berkembangan agama Islam semakin pesat, setelah sekian ratus tahun Majapahit berkuasa.
1. Abdul Manan bernama asli Bagus Darso, setelah tiga tahun ayahnya berkuasa, dia pun kembali dari perantauannya menuntut ilmu agama Islam di pondok pesantren Tegalsari Ponorogo di bawah asuhan Kiai Hasan Besari.
Sekembalinya dari nyantri, KH. Abdul Manan Kecil atau Bagus Darso pun mulai mendirikan pesantren di desa Semanten (2 km dari kota Pacitan) dibimbing oleh sang ayah. Namun setahun kemudian pesantren tersebut dipindahkan ke daerah Tremas, dan sejak saat itulah menjadi awal kisah pondok pesantren Tremas.
2. Abdul Manan sejak kecil memang sudah terlihat kecerdasannya. Bahkan ketika masih nyantri pada KH. Hasan Besari di Tegalsari sudah banyak keistimewaan yang dilihat oleh sang guru tampak dari Abdul Manan kecil. Pernah suatu malam, seperti biasa, Kiai Hasan Besari mengelilingi pesantren sambil memastikan kondisi para santri yang sudah terlelap, dan sungguh mencengangkan, di antara para santri di tengah kegelapan malam terpancar larik cahaya, dalam hati Kiai hasan Besari bertanya-tanya, gerangan cahaya apa itu? Setelah didekati ternyata cahaya itu keluar dari ubun- ubun salah seorang santri, hal ini benar-benar mengherankan luar biasa.
Karena kondisi sekitar gulita, ditambah lagi penglihatan Kiai Hasan yang semakin tua, beliau pun tidak bisa mengetahui siapa santri itu, tapi beliau sengaja mengikat ujung ikat kepala santri itu, agar besok pagi bisa mengetahui siapa santri yang bercahaya itu. Dan keesokan harinya, ternyata itu adalah KH. Abdul Manan kecil.
DARI SEMANTEN KE TREMAS
Karena keilmuan KH. Abdul Manan yang tidak diragukan lagi sejak masih nyantri, sehingga banyak masyarakat sekitar Pacitan mengaji pada beliau. Tak berapa lama, KH. Abdul Manan pun dinikahkan dengan putri Demang Tremas; R. Ngabehi Honggowijoyo, yang tak lain adalah kakak kandung Sang Ayah. Setelah pernikahan itu, pesantren yang dirintis awal oleh KH. Hasan Besari di Semanten pun dipindahkan ke Tremas, karena sang mertua menyediakan tanah yang berada di daerah jauh dari keramaian dan pusat pemerintahan, yang dirasa sangat cocok bagi para santri untuk mengaji, menimba ilmu. Dan sejak tahun 1830 M itulah berdiri pondok Tremas.
PONDOK TREMAS KINI
Pasca wafatnya KH. Habib Dimyathi (pengasuh Pondok Tremas) pada tahun 1998, estafet kepengasuhan pun dilanjutkan oleh putra-putra masyayikh, KH. Fu’ad Habib Dimyathi atau Gus Fu’ad (Putra KH. Habib Dimyathi) sebagai Ketua Umum Perguruan Islam Pondok Tremas, KH. Luqman Hakim, Gus Luqman (putra KH. Haris Dimyathi) sebagai ketua majlis Ma’arif dan KH. Mahrus Hasyim, Si Mbah Mahrus (putra KH. Hasyim Ihsan) yang menangani bisang social kemasyarakatan.
VISI DAN MISI PONDOK PESANTREN TREMAS
Setiap ulama’ yang menyebarkan ilmunya melalui berbagai media, salah satunya pesantren tak lain agar terlahir insan-insan yang bertafaqquh fiddin, santri-santri yang mempertahankan agama Islam. Dan pondok Tremas pun memiliki visi yang diredaksikan :
Keikhlasan, kesederhanaan, kebebasan, menolong diri sendiri dan sesama umat, serta ukhuwah diniyyah.
Sementara misi dari pondok Tremas adalah :
Membina para santri agar berkepribadian muslim sesuai dengan ajaran-ajaran Islam serta menanamkan rasa keagamaan tersebut di berbagai segi kehidupannya, sehingga akhirnya menjadi orang yang berguna bagi agama, masyarakat dan Negara.
Sedangkan tujuan khusus nya dapat disebutkan untuk mendidik para santri menjadi insan muslim yang bertaqwa kepada Allah Swt, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, keterampilan serta sehat lahir batin.
Pondok pesantren ini menurut sejarah merupakan pondok pesantren tertua ke-2 di Pulau Jawa. Terletak di desa Tremas kecamatan Arjosari kabupaten Pacitan. Mengunjugi ponpes ini apalagi kalau telah melakukan sholat di dalam masjid di lingkungan ponpes, serasa kedekatan kita terhadap Sang Khaliq semakin bertambah.
Dilihat dari segi jaraknya, yakni 135 Km dari kota Solo dan 70 Km dari kota Ponorogo, maka wajarlah kalau santri-santri yang berdatangan dari daerah lain harus berjalan kaki karena belum adanya sarana transportasi. Sedangkan desa Tremas terletak pada 11 kilometer dari kota Pacitan ke utara dan1 kilometer dari kecamatan Arjosari. Desa Tremas dipagari oleh bukit-bukit kecil yang melingkar dimana sebelah utara dan sebelah timur desa Tremas mengalir sungai Grindulu yang selalu membawa lumpur banjir di waktu musim penghujan. Oleh karenanya pondasi rumah penduduk desa tersebut rata-rata sangat tinggi bila dibandingkan dengan pondasi rumah penduduk di daerah yang bebas banjir.
Desa Tremas dibatasi oleh beberapa desa yaitu, sebelah utara dibatasi oleh desa Gayuhan, sebelah timur dibatasi oleh desa Jatimalang, sebelah selatan dibatasi oleh desa Arjosari dan di sebelah barat dibatasi oleh desa Sedayu. Mata pencaharian penduduknya adalah bertani, yakni bercocok tanam padi, kacang tanah, kelapa, pisang, sayur mayur dan sebagainya. Karena Pacitan merupakan daerah yang minus dan tandus maka tidaklah aneh jika masyarakatnya sedikit ketinggalan jika dibandingkan dengan masyarakat daerah lain, khususnya dalam bidang ekonomi. Dengan uraian tersebut kita dapat menggambarkan kehidupan rakyat di daerah itu, yang sedikit banyak dapat mempengaruhi keadaan Pondok Tremas.
"SEJARAH ASAL MULA PEMBERIAN NAMA PONDOK PESANTREN TREMAS"
Tremas berasal dari dua kata yaitu Trem berasal dari kata Patrem yang berarti senjata atau keris kecil dan mas berasal dari kata emas yang berarti logam mulia yang biasa dipakai untuk perhiasan kaum wanita. Kata ini berkaitan erat dengan cerita tentang dibukanya sebuah hutan yang akhirnya dinamakan Tremas, adapun yang pertama kali membuka hutan tersebut adalah seorang punggawa keraton Surakarta yang bernama Ketok Jenggot, atas perintah raja keraton Surakarta sebagai hadiah atas jasanya yang telah berhasil mengamankan keraton dari mara bahaya.
Dikisahkan pada suatu hari, Raja Keraton Surakarta memerintahkan kepada punggawanya yang bernama Ketok Jenggot untuk menjaga ketat kerajaannya, karena raja bermimpi bahwa hari yang akan datang mau ada bencana yang disebabkan datangnya seorang pencuri yang akan memasuki dan mengambil senjata pusaka yang ada di tempat penyimpanan, maka disuruhnyaKetok Jenggot menjaga dan mempertahankan dengan sebaik-baiknya.
Namun pada suatu hari datang seorang penyusup yang dengan kecerdikannya dapat masuk dalam keraton, akan tetapi usaha penyusup tersebut terlihat oleh Ketok Jenggot hingga terjadilah suatu perkelahian, setelah menghabiskan berpuluh-puluh jurus, maka dengan kesaktiannya, Ketok Jenggot berhasil memenangkan perkelaihan tersebut. Siapakah pencuri tersebut? tak lain adalah sang raja sendiri dengan maksud ingin menguji sampai dimana keperwiraan dan kesaktian Ketok Jengot.
Setelah kejadian itu, maka sang raja pun mengakui bahwa punggawanya tersebut benar-benar patuh dan sakti. Sebagai tanda atas kepatuhan dan kepahlawanannya itu maka sang raja memberikan hadiah kepada Ketok Jenggot berupa senjata Patrem Emas dan memberi tugas untuk membuka hutan di sebelah timur daerah Surakarta.
Demikianlah akhirnya setelah melalui perjuangan yang tidak ringan, Ketok Jenggot berhasil membuka hutan di sebelah timur daerah Surakarta, yang kemudian daerah tersebut diberi nama Tremas.
Perlu diketahui, bahwa sebelum Ketok Jenggot membuka hutan Tremas, di daerah tersebut sudah ada sekelompok orang yang lebih dahulu datang dan bermukim, yaitu R. Ngabehi Honggowijoyo (ayah Nyai Abdul Manan). Maka dari itu setelah meminta ijin dan memberi keterangan tentang tugasnya, barulah Ketok Jenggot mulai melaksanakan tugasnya dengan membuka sebagian besar hutan di daerah tersebut. Setelah tugasnya selesai, senjata Patrem Emas yang dibawanya itu ditanam ditempat beliau pertama kali membuka hutan tersebut, dan akhirnya daerah yang baru dibukanya tersebut diberi nama “ Tremas“.
Demikianlah sekilas cerita tentang asal mula nama Tremas yang dikemudian hari digunakan untuk menyebut sebuah pesantren yang berdiri di daerah tersebut, sedangkan Ketok Jenggot sendiri akhirnya bermukim di situ sampai akhirhaya dan dimakamkan di daerah tersebut.
[agungwahana7.wordpress.com]
Kamis, 07 Mei 2015
"MUSEUM BUWONO KELING PACITAN" Museum ini sebagai bukti Pacitan sebagai ibukota prasejarah dunia. [Desa Mantren - Kecamatan Punung]

Museum Buwono Keling terletak di Dusun Krajan Kulon, Desa Mantren, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Museum ini merupakan museum Arkeologi. Dibangun pada tahun 1996 dan difungsikan pada tahun yang sama. Bangunan ini dibuat satu lantai dengan luas bangunan 20 m x 50 m. Status kepemilikan tanah adalah hak milik negara. Sedangkan koleksi sendiri cukup banyak yaitu sekitar 3.896 koleksi. Museum ini menyelenggarakan pameran khusus satu kali dalam setahun, museum keliling tiga kali setahun dan workshop dua kali dalam setahun.

Beberapa Koleksi :
Arkeologi, Geologi, Keramitologi, Numismatika, Etnografi, Biologika, Teknologika, Kapak Primitif.
Fasilitas Publik :
Toilet, Penunjuk arah ( Sinage ), Parkir, Sarana Ibadah, Ruang Pameran Temporer

Namun pada tahun 2013 museum ini mengalami kerusakan parah sehingga terpaksa pemerintah daerah menutupnya. Hal ini sangat disayangkan karena sebagai kota yang mendapat julukan “Ibu Kota Prasejarah” malah tidak memiliki museum arkeologi lagi.
Keadaan musem Buwono Keling yang terletak di pinggir jalan utama Pacitan-Solo semakin memprihatinkan. Kini museum yang dibangun pada 1996 itu berada dalam kondisi yang merana. Di beberapa bagian museum yang dibangun Pemprov Jatim itu, banyak yang rusak.
Diketahui, sejumlah kayu di bagian atapnya keropos, bahkan mulai terlepas. Kerusakan itu berimbas pada bagian dalam gedung, tepat di bawah titik kerusakan. Bekas- bekas rembesan air terlihat di dinding. Begitu pula, bagian plafon rusak dan nyaris ambrol karena sering terkena air. Disbudparpora Pacitan pun terpaksa memindahkan puluhan benda prasejarah koleksi museum ke rumah pribadi Slamet. Misalnya, kapak genggam, kapak perimbas, dan mata panah. ’’Semua benda koleksi tersebut berasal dari situs-situs di sekitar museum. Koleksi itu merupakan peninggalan zaman paleolitikum, mesolitikum, dan neolitikum,’’ terang Kabid Kebudayaan Disbudparpora Pacitan Tamami, dilansir dari Jawapos, Ahad (28/9/2014).

Dia menyatakan, karena kondisinya seperti itu, museum tersebut terpaksa ditutup untuk sementara waktu sampai ada tindak lanjut dari Pemkab Pacitan maupun BPCB Trowulan. ’’Dulu dijanjikan inventarisasi, tapi urung dilaksanakan karena terbatasnya anggaran. Akhirnya, terpaksa saya tutup untuk sementara waktu,’’ ungkapnya. Hal itu pula yang mmebuat DPRD ragu terhadap rencana Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk membangun Museum Pacitan beralasan. Sekretaris Fraksi Partai Golkar Tejo Kusmoro mengkhawatirkan pembangunan Museum Pacitan yang bakal bernasib sama dengan Museum Buwonokeling. ’’Harus dipikirkan dengan matang. Sebenarnya, perlu atau tidak pembangunan (Museum Pacitan) itu. Biar nanti nasibnya tidak seperti Museum Buwonokeling,’’ katanya.
[Pacitanku.com]
Jumat, 01 Mei 2015
"MASJID TIBAN (NURUL HUDA) PACITAN" Muncul secara tiba-tiba, masjid ini jadi bukti sejarah penyebaran Islam di Pacitan. [Desa Tanjungpuro - Kecamatan Ngadirojo]
Masjid Tiban, saksi sejarah penyebaran Islam di Pacitan
Sejarah Pacitan tak pernah lepas dari sejarah perkembangan Islam. Berbagai macam bukti yang menunjukkan betapa hubungan Islam dan Pacitan dalam konteks sejarah begitu erat. Banyak bangunan peninggalan sejarah penyebaran agama Islam di negeri ini yang dipercaya keramat. Salah satu bukti itu adalah adanya sebuah Masjid di Ngadirojo. Namanya adalah Masjid Tiban. Letak masjid ini di Desa Tanjungpuro, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan Jawa Timur, adalah bukti perkembangan Islam di tanah 1001 goa. Meski tidak ada catatan sejarah sebagai rujukan, namun berdasar cerita turun temurun masjid yang kini bernama Nurul Huda tersebut merupakan peninggalan Sunan Geseng. proses ditemukannya Masjid Tiban ini tidak lepas dari peran sesepuh setempat bernama Mbah Bandung. Tokoh tersebut yang menemukan masjid di tengah rawa, lalu menyebutnya dengan Masjid Tiban.
Tampilan Masjid Tiban dari luar tak ubahnya seperti masjid lain. Bangunan dengan panjang 20 meter dan lebar delapan meter itu sepenuhnya bercorak modern. Baik lantai, tembok maupun atapnya semua menampilkan citra masa kini. Masjid yang berada di tengah pemukiman tersebut sudah tiga kali direnovasi, yaitu pada 1976, 1986 dan 1998. Namun, satu bagian yang tak pernah berubah adalah sisi tengah masjid. Bangunan utama berbentuk joglo yang ditopang empat pilar itu hingga saat ini dibiarkan seperti sedia kala. Tiang kayu yang menyisakan bekas tatahan kasar, tetap berdiri tegak tanpa dihaluskan. Demikian pula dengan kayu berukir yang melintang diatasnya, keduanya hanya dipoles cat warna coklat.
Masjid ini dipercaya sebagai masjid “tiban”. “Tiban” berarti jatuh atau ada secara tiba- tiba dan diyakini keramat. Nur Halim, pemangku masjid setempat, menceritakan asal-usul masjid ini cukup misterius. Adalah Ki Ageng Bandung, orang kepercayaan Adipati Ponorogo, yang pertama kali menemukan bangunan cikal bakal masjid tersebut. Ki Ageng Bandung merupakan salah satu orang kepercayaan kerajaan yang membabat wilayah setempat yang waktu itu masih berupa hutan pada 1700- an hingga 1800-an. Suatu hari Ki Ageng Bandung menjelajahi hutan di dekat Dusun Bandung. Baru sekitar tiga langkah berjalan, ia mendengar suara burung. Karena penasaran, dia mengikuti asal suara burung tersebut dengan menggunakan gethek atau alat untuk menyeberang yang terbuat dari bambu dengan menyusuri rawa hutan. Akhirnya burung tersebut terlihat bertengger di dahan pohon tanjung kembar. Tepat di sebelah pohon tanjung kembar itu terdapat dua bangunan. Satu bangunan berbentuk rumah joglo dan satu bangunan lain adalah sebuah masjid kecil yang terbuat dari batu bata beratap ilalang. Setelah masuk ke bangunan masjid yang sudah lama tidak terawat itu, dia menemukan selembar surat berbahasa Jawa kuno. Setelah dibaca, surat tersebut ditulis seseorang yang menamakan diri Sunan Geseng. Isi surat berbunyi “Manawa alas iki wis babad sarta wis dadi desa reja, pandhapa iki dak cadangkake sapa kang dadi lurah. Lan masjid ing sakidul kulone iki dienggo panggonan mulang santri. Dene kang agawe pandhapa lan masjid iki aku, Sunan Geseng”. Jika diartikan, surat tersebut menjelaskan bahwa “Apabila hutan ini sudah dibabat dan menjadi desa yang makmur, pendapa ini aku ujukan untuk siapa yang akan menjadi kepala desa. Masjid di sebelah tenggara nanti digunakan untuk tempat belajar para santri. Yang membangun pendapa dan masjid aku, Sunan Geseng”. Di bangunan itu juga ditemukan sebuah kepek atau sejenis bungkusan kantong kecil dari kain yang tergantung. Setelah dibuka di dalamnya didapati jubah bergaris poleng beserta surban dan baju lengan panjang seperti baju koko untuk salat berwarna putih berbahan kain tenunan Jawa. Sampai sekarang kepek dan peralatan lainnya masih tersimpan dalam kotak kayu yang dibungkus kain putih. Secara berkala, kain pembungkus itu diganti. “Saya tidak tahu apa isi kotak tersebut. Saya tidak berani membukanya,” ungkap pria yang akrab disapa Gus Nur ini.
Ki Ageng Bandung sendiri sebenarnya bangsawan dari Padjajaran, Jawa Barat. Konon, kepergiannya dari tanah Priangan itu setelah kalah berebut kekuasaan menjadi adipati dengan sang adik. Setelah kalah dalam perang saudara, ia hijrah ke wilayah Kerajaan Pajang, Jawa Tengah dan sampai ke wilayah Ngadirojo, Pacitan bersama salah satu muridnya, Panji Sanjayarangin. Sebelumnya, dia mengabdi di Adipati Ponorogo. Sekilas tak ada yang menonjol dari masjid yang berada dekat perbatasan Pacitan dan Trenggalek ini. Dan juga tak ada tanda kapan masjid ini dibangun. Di perkirakan masjid ini di bangun sudah ratusan tahun yang lalu.
[Pacitanku.com]
"MONUMEN PALAGAN TUMPAK RINJING PACITAN" Megahnya patung Jendral Sudirman dan Brigjen Slamet Riyadi ini jadi saksi bisu perjanjian bersejarah serta untuk mengenang jasa para Pahlawan yang telah gugur. [Desa Dadapan - Kecamatan Pringkuku]
"GOA SONG TERUS PACITAN" Situs goa purbakala ini di kenal sebagai Istana museum prasejarah di Pacitan. [Desa Wareng - Kecamatan Punung]

Situs Goa Song Terus, Istana Museum Pra Sejarah Pacitan
Mengingat ketika anda pernah belajar sejarah pada waktu sekolah dulu, Pacitan seringkali disebut – sebut beberapa kali sebagai ibukota pra sejarah dunia, kalau tidak salah sering disebutkan dengan budaya pacitanian. Pacitan disebut demikian karena penemuan situs – situs manusia purba banyak ditemukan disini, di Pacitan.
Dan salah satu museum Goa tempat keberadaan manusia purba adalah Goa Song Terus. Song Terus berada di Kecamatan Punung, 45 menit arah barat dari jantung Kota Pacitan. Kebanyakan situs berupa goa-goa, yang berada di balik deretan Gunung Seribu. Sedikit informasi, Gunung Seribu adalah pegunungan panjang yang melintasi daerah selatan antara Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, tepatnya melintasi Kabupaten Gunungkidul, Pracimantoro, dan Pacitan.
Tepatnya di wilayah Kali Baksooka, Desa Mendolo Lor,Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan Jawa Timur. para ahli sejarah menemukan situs purbakala. Situs ini kemudian terkenal di dunia arkeologi karena menjadi rujukan salah satu kebudayaan Paleolitik Bawah. Para arkeolog menyebutnya sebagai kebudayaan Pacitanian, dengan perkakas khasnya kapak genggam. Termasyurnya nama Pacitan, mengundang berbagai arkeolog lain. Dari situlah, satu per satu, situs prasejarah ditemukan.
Bukti-bukti tentang keberadaan Song Terus, yang pernah dipakai sebagai ajang kegiatan dan tempat hunian manusia masa lalu, telah dibuktikan melalui berbagai temuan hasil penggalian arkeologis secara sistematis sejak tahun 1994 sampai sekarang.
Berbagai macam temuan yang dihasilkan sudah mencapai hitungan puluhan ribu sejak dalam penelitian dekade 5 tahun belakangan ini. Secara nyata, Song Terus telah memberikan andil yang sangat besar dalam peranannya sebagai salah satu sumber data sejarah pada masa lalu di Pacitan pada khususnya dan Pegunungan Sewu pada umumnya.
Jejak-jejak peninggalan budaya berupa industri alat batu, seperti: alat-alat masif dan serpih-bilah, alat-alat tulang, dan cangkang kerang serta berbagai macam temuan sisa fauna dan manusia yang terdapat di sini telah memberikan petunjuk dan mengisyaratkan adanya Goa sebagai hunian manusia masa lalu yang sarat akan tinggalan arkeologis.
Berdasarkan hasil penelitian, setelah dilakukan dating (penanggalan absolute menggunakan metode C14 dan U-Th-Red) terhadap sejumlah artefak temuan, maka diperoleh hasil bahwa lapisan “anthropik” di situs Song terus paling tidak sudah ada sejak 180000 tahun yang lalu. Sedangkan lapisan termuda berasal dari sekitar 45000 tahun lalu. (Francois Semah/ Museum national d’Histoire Naturelle, paris, Perancis; Kenedi Nurhan Arkeologi, KOMPAS, Desember 2000)
[Pacitanku.com]
"SUNGAI BAK SOOKA PACITAN" Sungai yang Jadi kunjungan Para Ahli Sejarah. [Desa Mendolo Lor - Kecamatan Punung]
Sungai Baksooka Pacitan yang Jadi Rujukan Para Ahli Sejarah
Saat mata pelajaran di Sekolah Menengah Pertama (SMP) sejarah diterangkan oleh guru, seringkali guru menyebut ada salah satu kebudayaan Pacitanian, yang merupakan kebudayaan masyarakat zaman pra sejarah di Pacitan. dan memang benar, berdasarkan penuturan para ahli sejarah, Pacitan adalah ibukota prasejarah dunia.
Sekitar 261 lokasi situs prasejarah, terdapat di Pacitan, baik dalam tahapan eksploitasi maupun yang telah disurvei tim arkeologi. Situs tersebut berada di jajaran Gunung Sewu, yang tersebar mulai di Kecamatan Punung, Pringkuku, Pacitan, Kebonagung hingga Kecamatan Tulakan.

Gunung Sewu secara geologis dan geografis terpisah dari wilayah Pulau Jawa lainnya. Iklimnya kering. Relief bukit kapur, gua dan gua payung banyak terdapat di daerah ini. Cukup ideal sebagai tempat tinggal bagi manusia purba. Pun ada banyak jenis bebatuan sileks lokal bermutu sebagai bahan baku pembuatan peralatan dan senjata. Salah satu yang cukup dikenal adalah Sungai Baksooka.
Sungai Baksoka terletak di Desa Mendolo Lor, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Berdasarkan informasi dari Dinas Pertambangan dan ESDM Pacitan, geosite Sungai Baksooka dari sisi geologi adalah salah satu sungai permukaan di kawasan karst gunung sewu yang menampakkan morfologi undak. Di sungai itu, ada endapan lempung hitam formasi Kali Pucung yang terbentuk sekitar 1,8 juta tahun yang lalu. Pada tahun 1955 di sungai Baksooka ini, Van Heekeren menemukan banyak artefak batu dari zaman paleolitikum yang kemudian dikenal dengan budaya Pacitanian. Sungai Baksooka merupakan “bengkel” kapak genggam paleolitik.

Sebagai salah satu situs geologi (geosite) geopark gunung sewu, di sepanjang sungai Baksooka terdapat lintasan geologi yang menawarkan aspek geologi dan arkeologi. Pada segmen bagian utara, pengunjung dapat mencermati singkapan- singkapan batuan oligo-miosen dan miosen tengah yang berfungsi sebagai alas batu gamping. Pada segmen sungai bagian selatan menyimpan batu gamping yang kaya fosil koral, foraminifera, dan moluska.
Salah satu yang sering ditemukan di Sungai Baksooka adalah kapak genggam. Jenis kapak inilah yang menjadikan Pacitan terkenal dalam dunia prasejarah dengan sebutan: Pacitanian. Terbuat dari jenis batu Kalsedon dengan, ciri-cirinya, ada dua pangkasan pada kedua sisinya. Kapak perimbas juga ditemukan di Kali Baksooka, Sungai Banjar, Sungai Karasan, Sungai Jatigunung, dan Kedung Gamping.
Kapak perimbas berbahan dasar sama dengan kapak genggam, yaitu batu kalsedon. Peralatan ini punya ciri-ciri tajam hanya pada satu sisi dan agaknya digunakan untuk keperluan sehari-hari. Saat ini, batuan kalsedon yang menjadi alat kapak pada masa lampau digunakan oleh masyarakat setempat untuk membuat kerajinan batu mulia . Bahkan, batu mulia berbahan kalsedon (Chalcedony) menjadi batu mulia paling diminati di Pacitan.
[Pacitanku.com]
Kamis, 30 April 2015
"MONUMEN JENDRAL SUDIRMAN PAKIS BARU PACITAN" Kemegahan monumen ini sebagai media untuk mengenang jasa para sosok sang Gerilyawan melawan penjajah. [Desa Pakis baru - Kecamatan Nawangan]
Kali ini kita bahas sebuah obyek wisata yang terpencil di sebelah utara Kabupaten Pacitan yaitu monumen jendral Sudirman. Monumen ini merupakan salah satu obyek wisata sejarah di Pacitan Jawa Timur. Sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang dan menjadi saksi gigihnya perjuangan salah satu Jendral Besar Indonesia yaitu Jendral Sudirman. Monumen ini terletak di dukuh Sobo, Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan yaitu sekitar 34 km dari pusat kota Pacitan.
Kita akan melihat patung Jenderal Sudirman setinggi 8 meter kokoh tegak berdiri. Selain monumen, terdapat juga sebuah rumah yang dahulu menjadi markas sang jendral saat melakukan perjuangan gerilya melawan penjajah. Rumah ini dahulu ditempati beliau selama 107 hari, sejak 1 April 1949 s/d 7 Juli 1949. Komplek monumen Jendral Sudirman ini juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang seperti perpustakaan, ruang audio visual, ruang resepsionis, pasar seni, cafetaria, lapangan. Kita juga akan disuguhi diorama perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia sampai pengakuan kedaulatan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949 oleh Belanda.
Di kompleks monumen ini kita juga bisa menyaksikan relief yang terbuat dari perunggu yang menggambarkan perjalanan hidup dan perjuangan Jendral Besar Sudirman. Relief itu menceritakan masa kecil hingga akhir usia Jendral Sudirman. Masa kelahiran, mengaji, sekolah, kepanduan, menjadi anggota Peta, memimpin gerilya hingga meninggal terceritakan dengan relief ini.
Sebelum masuk ke monumen tersebut, kita akan melewati 8 gerbang yang menunjukkan 8 provinsi pada tahun 1948 – 1949. Pada masing masing gerbang kita akan melihat kata kata motivasi yang tertulis di gerbang yang merupakan kata-kata yang pernah di ucapkan jendral Sudirman. Salah satu kata motivasi tersebut berbunyi ” Walau dengan satu paru paru dan ditandu tetap pantang menyerah”.
Untuk mencapai monumen Jendral Soedirman kita harus melewati tiga jalur berundak, dengan jumlah anak tangga tiap jalurnya adalah 45, 8 dan 17. Jumlah anak tangga tersebut merupakan cerminan dari tanggal, bulan dan tahun kemerdekaan Republik Indonesia yaitu 17-8-1945. Patung jendral Soedirman ini berdiri kokoh di atas tanah seluas kira-kira 97,831 meter persegi. Untuk menuju obyek wisata ini kita akan melewati jalan yang berkelok kelok khas daerah pegunungan Pacitan. Kita akan melihat pemandangan yang indah saat perjalanan. Untuk masuk ke obyek wisata ini biasanya tidak dikenakan biaya atau gratis.
~ Rute menuju monumen ini kalau dari Pacitan kota ikuti jalan arah Kecamatan Arjosari, dan belok kiri setelah sampai di pasar Arjosari. Maju sedikit lalu ikuti jalan arah Nawangan atau belok kanan di pertigaan berikutnya. Ikuti jalur utamanya hingga sampai di desa Pakis baru Nawangan, dan jalan masuk Komplek monumen adalah setelah sampai pasar Pakisbaru belok kekiri.
Monumen ini juga dekat bila di akses dari luar kota diantaranya dari wilayah Wonogiri, Ponorogo atau Madiun.
AWAL SEJARAH PEMBANGUNAN MONUMEN JENDRAL SUDIRMAN PAKIS BARU NAWANGAN PACITAN

Panglima Besar Jend Sudirman juga merupakan seorang TNI
Kala itu saat dimana Almarhum Roto Suwarno termenung di salah satu ruangan kerjanya di Gedung Sekretariat Negara RI, sepertinya beliau teringat akan segala macam persoalan yang ada di kampung halamanya yang sangat di Cintai. dalam hati dan pikiranya teringat bahwa di desa itulah aku bertemu dan kenal dengan Panglima Besar Jendral Sudirman sapai akhirnya beliau (Alm) di tarik menjadi salah seorang Pengawal pa'Diman sang pemimpin Perang Gerilya dalam mempertahankan Kemerdekaan Republik kita ini! Tergeraklah hatinya untuk mewujudkan "sesuatu" sebagai sembah baktinya terhadap Panglima Besar Jendral Sudirman yang menurutnya sangat berjasa besar dalam kehidupan pribadi & keluarga hingga dapat merasakan nikmatnya hidup di Kota besar. Dengan perjalanan hidup yang tidak mudah di dapatnya hingga mencapai titik/puncak karir yang di capainya.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP (Alm) ROTO SUWARNO :

1. Anggota Tentara Pelajar di Solo
2. Anggota Kesatuan Pengawal Panglima Besar Jend. Sudirman 1949
3. Anggota CPM Jakarta
4. Pegawai Kabinet Perdana Menteri 1951
5. Pegawai Sekretariat Negara RI
6. Anggota DPR/MPR RI periode 1977-1987 (anggota yg di angkat Presiden)
7. Anggota MPR RI 1987-1992 (Anggota Terpilih)
Adapun Almarhum Semasa hidupnya sebagai Penggerak & Pelopor Pembangunan Masyarakat desa Pakis dan sekitarnya.
Sumbangsih Almarhum semasa hidup kepada Masyarakat desa Pakis, Nawangan khususnya & kab Pacitan pada umumny sebagaiberikut :
1. Merintis & Menggerakan Pmbangunan Jalan antara kecamatan Purwantoro desa Pakis kecamatan Nawangan menuju kabupaten Pacitan.
2. Menggerakan Penghijauan Produktif Hutan dan Kebun Rakyat di berbagai desa yang mencakup areal lebih dari 1.000 Ha
3. Membangun Sarana Pendidikan untuk Masyarakat dengan membangun SMP & SMA Negeri di desa Pakis
4. Merintis Pendirian dan Pembangunan Puskesmas di desa Pakis
5. Merintis Listrik Masuk Desa di Pakis dan sekitar s/d kecamatan Nawangan
6. Membuat Cek Dam/Bendungan sebagai Irigasi Pertanian Masyarakat desa Pakis
7. Membangun sarana Ibadah seperti Masjid & Mushola di desa Pakis
8. Merintis & Membangun Balai Desa sebagai salah satu sarana kebutuhan Masyarakat di desa Pakis (kabarnya ini Balai Desa Terbesar di Asia Tenggara)
9. Membangun Pasar Tradisional di desa Pakis
10. Membangun Sarana Peristirahatan atau Gedung Serba Guna untuk para Pejabat yang berkunjung ke desa Pakis
11. Melestarikan & Memugar Rumah Ex Markas Gerilya Panglima Besar Sudirman di dukuh Sobo Pakis Baru
12. Membangun Monumen Panglima Besar Jendral Sudirman diatas lahan seluas +/- 10 Ha dengan luas Bangunan Monumen & Lapangan Upacaranya seluas 15.000 meter.
"Senajan sedina ana lindhu kaping pitu, Tetepa oleh mu gondhelan wathon". YANG MAKNANYA "Meskipun satu hari terjadi tujuh kali gempa, Tetaplah memegang teguh pada prinsip yang kita pegang".
~ "Abdullah Lelono Putro" Jendral Sudirnam ~

Rumah Gerilya

Monunen panglima besar

Gerbang Pedang Pora

Pak SBY di dalam Rumah Gerilya
AWAL PERJALANAN PEMBANGUNAN MONUMEN
Setelah Lokasi Monumen di tentukan, maka Almarhum segera menggerakan Masyarakat desa Pakis dan sekitarnya untuk ikut berperan serta dalam melaksanakan Pembangunan Monumen dengan tujuan Almarhum agar Rakyat desa mendapat lapangan Pekerjaan sebagai buruhnya. Dan itu alasan mengapa saat itu Almarhum tidak menggunakan alat-alat berat untuk pekerjaan besar tesebut? Sungguh Mulia-nya Hati Almarhum.
Berikut ini beberapa foto bukti proses pembangunan monunen :

Lokasi yang di tentukan untuk pembangunan monumen

Maket Area Monumen Sudirman

Dikerjaan Tenaga Manusia warga setempat

Rumah Gerilya setelah Pemugaran pertama

Areal Monumen dalam tahap Pengerjaan

Pembuatan Patung di Sanggar Alm Saptoto, Jogja:
(Pakis-baru.blogspot.in)